FOTO : JURNAL KALTARA / ISTIMEWA

-    Bagi Mereka, Isitlah “Lunag Telang Otah Ine”  Harus Tetap Lestari Sepanjang Masa

TANJUNG SELOR – Suku Punan ternyata sangat beragam, misalnya Suku Punan Batu, Punan Tubu, Punan Kalun, Punan Semamu dan Punan Merungau, namun pola hidup mereka sejak turun temurun selalu sama. Yakni hidup didalam rimba belantara dengan menggantungkan kehidupan dari keramahan alam liar namun hebatnya mereka tetap terus menjaga keseimbangan alam tersebut.
    Istilah dalam bahasa mereka “Lunag telang otah ine” atau dalam bahasa Indonesia lebih kurang artinya adalah “hutan merupakan air susu ibu”. Filosofi dalam kehidupan mereka dalam menjaga kesimbangan alam yaitu hutan rimba belantara seperti air susu seorang ibu yang selalu dibutuhkan diawal=awal kehidupan seorang anak manusia.
    Walau hidup secara nomaden atau berpindah-pindah Suku Punan jauh sebelumnya juga sudah mengenal budaya dan hukum positif dikomunitas mereka, misalnya hukum adat yang diputuskan oleh seorang kepala suku atau ketua adat pada setiap perkara.
    Secara kebetulan atau beruntung saya sendiri cukup lama hidup ditengah-tengah komunitas Suku Punan yang berhasil di Mukimkan oleh Pemerintah pada tahun 1970 an silam di Desa Paking Lama Kecamatan Malinau (Sebelum Pemekaran Kabupaten Malinau. Red).   
    Untuk menghindari pertikaian antar sesama atau sifat yang merugikan pihak lain, penerapan hukum adat sangat sakral bagi warga Punan.  Yang mana rata-rata warga Punan sangat taat kepada hukum adat mereka yang mereka sebut “Puut hok sala toy, denda adat hok ano” atau takut salah kena denda adat saya nanti.
    Dalam praktek penerapan hukum denda juga sangat beragam, misalnya terjadi perkelahian maka ketua adat pasti memutuskan hukuman kepada yang bersalah untuk memberi sebilah parang dan seekor ayam pada korbannya. Atau dalam bahasa “Punan kow sala membe hen jadi kow me ugen ji yow ji nen hen”.
    Hebatnya, walaupun denda atau hukuman yang diputuskan oleh ketua adat tidak seberapa nilainya, namun  bagi Warga Punan itu merupakan hal yang berat, artinya rasa malu untuk berbuat kesalahan bagi mereka sangat besar.
    Budaya toleransi tepa selera bagi Warga Punan juga sangat tinggi, misal bila ada Kepala Keluarga yang berhasil mendapat binatang buruan. Maka daging hasil buruan itu dibagi rata kepada setiap rumah tangga.
    Dalam mengambil binatang buruan dihutan maupun ikan di Sungai orang Punan sangat selektif dan hanya mengambil sesuai kebutuhan. Disinilah kehebatan mereka dalam menjada ekosistem dan keseimbangan alam, sehingga wajar apabila hutan terus menjaga kehidupan mereka sepanjang masa.
    Mereka juga sangat suka berkelana dihutan rimba belantara, terutama saat musim buah atau binatang buruan sedang musim berenang menyeberangi setiap sungai. Dalam istilah mereka yang dikenal dengan sebutan “Mubut” orang Punan ini mampu bertahan hidup berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun dihutan tanpa perbekalan, hanya mengandalkan potensi dan dari keramahan hutan tersebut.
    Untuk mebuat perapian yang dipakai memasak atau membakar daging buruan, mereka (Punan, Red) tidak butuh korek api seperti kebanyakan yang dipakai sekarang. Cukup dengan dua buah batu dan sedikit lumut kering yang digunakan saat menggesek kedua batu itu orang Punan sudah bisa membuat api yang besar, dimana batu dan lumut tersebut mereka sebut “Tedek”.
    Orang atau Suku Punan juga mengenal yang namanya ‘Tabib’, dimana apabila ada warga mereka yang sakit sang ‘Tabib’ selalu tampil untuk menyembuhkan, biasanya pola ini mereka menyebutnya ‘otuh”. * Rie/bersambung.