FOTO : JURNAL KALTARA / ISTIMEWA

SEBATIK - Kecintaan warga Ssbatk, Kabupartan Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara, terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah tidak perlu diragukan, walau ditengah keterbatasan infrastruktur yang ada mereka tetap bertahan sebagai perisai negara diperbatasan Indonesia dan Malaysia itu.

Bayangkan, Abrasi tepi laut yang menggerus pemukiman warga Desa Tanjung Aru Hinga ke Sungai Manurung, Sebatik, Nunukan sepanjang lebih kurang 15 KM, saat inu mulai mengancam perumahan warga yang bermukim ditepi pantai.

"Aspal jalan di Desa Tanjung Aru sudah mulai mengalami kerusakan, kami mohon perhatian pemerintah untuk melakukan perbaikan, " ujar Kepala Desa Tanjung Aru, Budimana, menyampaikan aspirasi warga saat berlangsungnya agenda Reses, H Andi Kasim, anggota DPRD Provinsi, Kalimantan Utara, di Sebatik, belum lama ini.

Senada dengan Kades, Arifuddin warga Sebatik lainnya, juga mengeluhkan pembangunan pemecah gelombang, perlu disegerakan, agar abrasi yang mengancam perumahan masyarakat bisa segera teratasi.

Selain itu lanjut Arifuddin, soal penyeberangan warga dari Pulau Sebatik ke Tawau Sabah Malaysia juga perlu dipikirkan.

Menjawab usulan masyarakat, H Andi Kasim, mengatakan, soal pemecah gelombang kalau tidak ada halangan tahun anggaran 2020 sudah dianggarkan sekitar Rp 15 Milyar.

"Soal usulan pembangunan Irigasi tetap saya akan konsultasi ke Pemprov Kaltara melalui OPD yang membidangi, " ujar Andi Kasim.

Demikian pula soal penyeberangan dari Sebatik menuju Tawau, hal ini juga ditanyakan langsung kepada Imigrasi. Masalah nya ada dua, yakni pertama Armada yang ada saat ini tidak memenuhi standar internasional, kedua pelabuhan milik Indonesia yang ada di Sebatik tidak memenuhi sertifikasi Internasional juga. * Sahri.