Connect with us

Berita Ekonomi

Pemprov Kaltara Harus Berperan Terhadap Pemulihan Ekonomi

Published

on

Dr Syaiful Anwar SE M Si Dekan Fakultas Universitas Borneo Tarakan (UBT).

– Disaat masih mewabahnya Pandemi Covid – 19 yang belum kunjung teratasi

TARAKAN – Pemulihan ekonomi di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara, ditengah masih mewabah nya virus Covid – 19 wajib dilakukan oleh semua pihak, tidak hanya lewat pemberian bantuan stimulus dari Pemprov atau Pemkab Bulungan, namun peran swasta nasional dan BUMN serta Bank juga mutlak turut ambil bagian.

“Dalam hal mengatasi minim nya pembeli yang berbelanja kepada pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) juga harus disiasati oleh pelaku usaha, ” kata Dr Syaiful Anwar SE M Si pengamat ekonomi dari Universitas Borneo Tarakan (UBT) kepada media ini melalui telpon selular WhatsAPP, Senin Malam, 5/4/2021.

Misalnya lanjut dia, mensiasati cara penjualan melalui aplikasi media online lewat handphone android.

“Kalau dalam situasi begini berjualan dengan pola ofline memang sedikit sulit untuk memasarkan prodak, ” ujarnya.

Lebih lanjut Dr Syaiful Anwar SE M Si yang juga Dekan Fakultas Ekonomi UBT ini menambahkan, bantuan permodalan dari Pemprov Kaltara dan Pemkab Bulungan, melalui dinas tekhnis yang membidangi kepada seluruh pelaku UMKM mutlak diberikan.

“Bank-bank juga harus memberikan kredit dengan bunga yang kecil, misalnya melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR), ” ujar Syaiful Anwar.

Menurutnya, lantaran minimnya para pelaku usaha yang mengajukan KUR ke BRI, sehingga dana untuk itu masih banyak yang belum terserap.

“Peran perbankan terhadap UMKM yang memerlukan permodalan harus pula diberikan kemudahan, ” katanya.

Demikian pula para dealer kendaran roda dua, dalam situasi begini mereka harus memberi keringanan. Dengan cara menunda pembayaran kredit atau menurun kan besaran dana setoran bulanan.

Yang tidak kalah penting, dukungan dari Pemprov Kaltara dan Pemkab Bulungan harus kuat, misalnya bagaimana menyiapkan tempat terpadu kepada pelaku UMKM ini.

“Saya amati kalau di Tanjung Selor banyak pelaku UMKM yang berpencar berjualan, ” imbuh nya.

Kalau ini bisa disatukan, melalui dukungan Pemprov atau Pemkab jauh lebih menguntungkan dan membantu pelaku usaha UMKM itu sendiri

“Bantuan dari pemerintah seperti tempat yang representatif, lampu yang memadai serta hiburan tambahan untuk memanjakan pengunjung, tentu tetap mematuhi protokol Covid – 19, ” kata Dr Syaiful Anwar SE M Si.

Kalau di Tarakan itu sudah dilakukan Pemerintah Kota untuk menyatukan pelaku usaha UMKM. Seperti Taman Berlabuh dan Taman Berkampung. *

Reporter : Sahri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ekonomi

Lanjutan Pembangunan Pasar Kuliner Tanjung Palas Dihentikan Pemprov Kaltara

Published

on

Kondisi terakhir pondasi bangunan rencana pasar kuliner di Tanjung Palas Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara.

TANJUNG SELOR – Harapan warga Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, segera memiliki pasar kuliner pupus sudah, lantaran tak dilanjutkan anggaran pembangunan nya pada tahun anggaran 2021 ini oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, padahal pada tahun anggaran 2020 lalu telah dianggarkan sebesar lebih kurang Rp 4 Miliar.

Menurut sumber media ini di Disperindagkop Kaltara, untuk anggaran pembangunan hingga penyelesaian tahap akhir diplot sebesar Rp 11 Miliar. Hanya saja kabarnya usulan itu dicoret saat pembahasan anggaran sebelum ditetapkan dan disetujui bersama oleh TAPD dan Banggar Legislatif.

“Kalau ditanya apakah saya kecewa, tentu sangat kecewa besar, mengingat keberadaan pasar kuliner ini sangat dibutuhkan sekali oleh masyarakat, “ kata Ketua Lembaga Adat Kesultanan Bulungan, Drs Datu Buyung Perkasa M Pd, kepada media ini beberapa waktu yang lalu.

Kondisi direksi keet dilokasi rencana pembangunan pasar kuliner di Tanjung Palas.

Seharusnya kata dia, ditengah pandemic covid – 19 seperti ini, pembangunan pasar kuliner wajib berlanjut, bukan dihentikan anggaran lanjutan nya tanpa disertai dengan alasan yang jelas, disampaikan oleh pemerintah kepada masyarakat.

“Kan katanya, disamping melawan covid – 19, pemulihan ekonomi juga harus berjalan secara beriringan, agar kesejahteraan masyarakat dapat dirasakan secara merata, “ kata Datu.

Menurut Datu, kalau pasar kuliner Tanjung Palas segera tuntas terbangun dan diisi oleh para penjaja makanan. Kendaraan yang melintas dari arah Samarinda, Berau, Tanjung Selor, menuju Tanjung Palas Utara, Sekatak, KTT dan Malinau sangat terbantu. Terutama sopir dan para penumpang yang membutuhkan sarapan, makan siang atau makan malam bisa beristirahat disana.

Namun harapan masyarakat tetaplah tinggal harapan, faktanya pembangunan pasar ini tak berlanjut. Entah sampai kapan dibiarkan demikian, hanya Pemprov Kaltara melalui Dinas Tekhnis yang membidangi mampu menjawab hal itu.

“Infonya tidak hanya pasar kuliner di Tanjung Palas saja yang terhenti lanjutan pembangunan nya, namun pasar di Kecamatan Bunyu, kabupaten Bulungan dan pasar di Sebatik, Kabupaten Nunukan mengalami nasib yang sama, “ tegas Datu Buyung Perkasa.

Hasil pantauan lapangan media ini, bangunan pasar kuliner di Tanjung Palas sudah sampai ketahap pondasi bangunan.

Selain terlihat dua unit molen pengaduk semen yang masih teronggok disana, direksi keet yang sudah terlanjur dibangun oleh kontraktor pelaksana kerja terlihat tak terurus, pintu bangunan tampak terbuka, pagar seng yang terlihat sebelumnya mengelilingi lokasi bangunan juga sudah dilepas dari tempatnya semula dipasang. *

Reporter : Sahri.

Continue Reading

Ekonomi

Jeritan Pilu Pedagang Kecil Tanjung Selor Ditengah Pandemi Covid – 19

Published

on

Pedagang kecil atau yang sering disebut pedagang k 5 di Tanjung Selor Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara.

TANJUNG SELOR – Sejak Awal pandemi Covid – 19 melanda negeri ini, tak terkecuali di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara, pendapatan pedagang kecil atau yang trend disebut pedagang kaki lima terus merosot.

Puncaknya, yang dirasakan oleh beberapa pedagang yakni diawal Januari hingga memasuki bulan April 2021.

“Kalau bisa menangis kita menangis pak, setiap hari hanya cukup untuk makan, sekedar bertahan hidup, ” cerita ibu Eni, salah satu pedagang mie pangsit, kepada media ini, Jumat 9/4/2021 kemarin.

Kalau tahun 2020, kemarin pendapatan masih lumayan, masih bisa disisih kan untuk bayar sewa rumah dan uang kuliah anak.

Ibu Eni yang mengaku mempunyai Puteri yang kuliah di IAIN Surabaya, sambil mondok disalah satu pesantren disana,sangat membutuhkan biaya yang lumayan besar untuk ukuran orang seperti dia.

“Dari pendapatan jualan harian saya masih harus menyisihkan uang yang harus mencapai Rp 1,5 juta setiap bulan, untuk sewa rumah, air dan listrik, ” ujarnya dengan sedikit nada lirih.

Terkadang, untuk menutup keperluan sehari-hari, ia dan suaminya nyaris tak bisa berbelanja untuk kebutuhan modal berjualan, biasanya untuk menutupi itu ia akan berupaya mencari utangan yang pembayaran nya bisa dicicil.

“Kalau ada bantuan untuk pengusaha UMKM dari pemerintah saya mau, ” ujarnya.

Sedang ibu Suparni, salah satu penjual sayuran dipasar induk Tanjung Selor, juga mengalami hal yang sama. Sejak Januari hingga April penjulan nya mulai merosot. Itu dirasakan mulai wabah Corona muncul di Tanjung Selor.

Demikian pula, yang dialami pedagang sembako lain nya yang berjualan dipasar Induk Tanjung Selor, yang sebelum nya mendapat hasil kotor Rp 4 juta perhari sekarang menurun hingga 70 persen lebih.

“Sekarang pendapatan kotor hanya berkisar Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta saja. Kita berharap ada bantuan permodalan, ” ujar ibu Ana.

Sementara itu, ibu Nunung, penjual barang campuran, mengaku pendapatan nya menurun hingga 40 persen.

“Kalau sebelum Corona bisa mendapatkan hasil 6 hingga 7 juta, sekarang palingan dibawah 4 jutaan, ” katanya.

Untuk perkarung, ia bisa mendapatkan keuntungan berkisar 2 hingga 5 ribuan. Kalau hanya mendapat laba bersih 100 ribu palingan cukup makan, ” ujarnya.

Sebenarnya, lanjut dia sangat berharap ada bantuan untuk pelaku usaha UMKM seperti dirinya.

“Pengen juga dibantu lewat bantuan UMKM kalau bisa, ” imbuhnya. *

Reporter : Sahri.

Continue Reading

Ekonomi

Tak Boleh Bangun Pasar Ramadhan Dilapangan A Yani Tanjung Selor

Published

on

Yanti.

– Karena Pandemi Covid – 19 belum teratasi

TANJUNG SELOR – Selama dua belas tahunan setiap bulan Ramadhan, warga kota Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, untuk mempersiapkan menu buka puasa selalu berbelanja takjil di Pasar Ramadhan yang biasa dibangun disisi bagian depan Lapangan Achmad Yani. Tapi khabarnya pada bulan Ramadhan 1442 H atau tepatnya tanggal 13 April 2021 ini, pasar dimaksud sudah tak ada lagi disana, konon tak mendapatkan restu dari pemerintah untuk dibangun, dengan alasan masih dalam suasana melawan wabah pandemic Covid – 19.

Menurut Yanti, salah satu pedagang takjil setiap bulan Ramadhan, kepada media ini melalui pesan WhatsAPP, Sabtu,10/4/2021 menjelaskan, pihaknya sudah berupaya bermohon kepada Bupati Bulungan agar dijinkan membangun pasar Ramadhan ditempat dimana biasa dibangun setiap menjelang bulan Puasa, yaitu disisi bagian depan Lapangan Sepak Bola Achmad Yani Tanjung Selor, tapi tak dijinkan.

“Saya dan teman-teman meminta ijin kepada bapak Bupati, karena dimana pasar Ramadhan setiap tahun dibangun merupakan asset Pemkab. Namun keinginan kami tak distujui, dengan alasan Pandemi Covid – 19 masih belum teratasi, “ ujar Yanti.

Menurut bapak Bupati, lanjut Yanti lagi, untuk tahun ini tak ada pasar Ramadhan yang menggunakan asset daerah, yang menimbulkan kerumunan ditengah masih belum teratasinya wabah Pandemi Covid – 19.

Kalau memang itu menjadi landasan, tambahnya, apakah pasar-pasar liar tidak menciptakan kerumunan, kenapa itu tidak ditertibkan, apa dijamin disana tidak menyebarkan wabah virus corona?.

Terpaksa agar bisa tetap berjualan, dirinya berencana menjajakan jualan Takjilnya dijalan Jenderal Soedirman Tanjung Selor Hilir, persis didepan kantor pemadam kebakaran.

“Saya berencana hanya meggelar meja saja, yang bisa diangkut atau dipindahkan setelah jualan selesai, “ ungkapnya.

Seharusnya, ditengah menurunnya pendapat warga, yang berimbas terhadap perekonomian, tak ada pencekalan terhadap masyarakat yang mau berusaha. Terutama kepada pedagang musiman yang hanya memanfaatkan suasana bulan Ramadhan untuk menambah penghasilan.

“Masyarakat kecil hanya butuh kebijakan pemimpin yang berpihak terhadap mereka, bukan minta “disuapi”, “ kata Yanti.

Kalau berbicara wabah Covid – 19 semua memahami itu, kan ada yang namanya Protokol Kesehatan, tinggal bagaimana regulasi yang diterapkan. “Adaptasi kebiasaan baru” sudah jelas, harus ditaati dan dipatuhi tanpa kecuali.

“Jadi dengan menerapkan Protokol Kesehatan (Prokes), seharusnya semua bisa berjalan beriringan, Adaptasi kebiasan baru yang mendukung terhadap pemulihan ekonomi, “ tutup Yanti. *

Reporter : Sahri.

 

 

Continue Reading

Trending

Copyright © 2020 JurnalKaltara.com, Web Design by Ciptamedia Kreasi