Connect with us

Berita Ekonomi

Penghasilan Pelaku UMKM di Tanjung Selor Kaltara Merosot Hingga 50 Persen

Published

on

Tempat Penjualan Roti Canai di Jalan Sengkawit Tanjung Selor Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara.

TANJUNG SELOR – Sejak periode triwulan 1 Januari hingga Maret, sampai memasuki awal triwulan 2 bulan April 2021, pendapatan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara, menurun hingga dibawah 50 persen lebih dari pendapatan berjualan pada tahun 2020 yang lalu.

Setidak nya ada tiga orang sampel pelaku usaha UMKM yang sempat diwawancarai media ini, dua orang pengusaha warung kopi dan satu orang penjaja Roti Canai, yang biasa mangkal dijalan Sengkawit setiap hari nya.

Kepada media ini, Khaerul penjual Roti Canai, yang mangkal di jalan Sengkawit, Minggu malam, 4/4/2021, mengatakan, kalau tahun lalu setiap hari rata-rata penghasilan nya berjualan bisa mencapai Rp 700.000, namun sejak Januari hingga April 2021 hanya bisa mencapai Rp 200.000 hingga Rp 300.000/perharinya.

“Artinya kalau pendapatan demikian saya hanya bisa mendapat laba bersih sekitar Rp 90.000, ” ujarnya.

Penghasilan demikian belum dipotong untuk bayar kontrak tempat berjualan, lampu listrik dan air.

“Kalau dihitung rata-rata penghasilan saya perbulan nya hanya Rp 700.000, setelah dipotong listrik dan air sebanyak Rp 200.000 perminggu, ” tambah Khaerul.

Kendari demikian Khaerul masih bisa mengucap sukur, dengan adanya Bantuan Presiden (Banpres) kepada pelaku usaha UMKM sebesar Rp 2.400.000, setidaknya bisa menambah permodalan untuk sekedar bisa bertahan.

“Bayangkan setiap hari saya harus bisa menyisihkan untuk sewa tempat yang bila dikalkulasikan mencapai Rp 25.000.000/tahunnya.

“Kalau tahun lalu setiap habis pulang kerja banyak ASN yang singgah berbelanja, namun sejak 4 bulan terakhir sepi, entah kenapa, ” kata Khaerul.

Sementara itu, ibu Supriatin, salah satu penjual makanan dan minuman yang mangkal di jalan Jenderal Sudirman Tanjung Selor Hulu, juga menceritakan perihal yang sama. Sejak Januari hingga April 2021 pendapatan nya terus menurun, bila sebelum nya bisa berpenghasilan kotor Rp 700.000/perhari, sekarang hanya bisa rata-rata Rp 200.000 saja.

“Dulu masih ramai yang datang, terutama bapak-bapak ASN yang Dinas Luar (DL) dari kecamatan, sejak 4 bulan terakhir sudah tak ada lagi, ” jelasnya.

Sedangkan ibu Bilma, pemilik warung kopi yang berjualan dijalan Skip II Tanjung Selor, juga mengeluh, akhir-akhir ini penghasilan warung nya menurun drastis.

“Kalau dulu banyak saja ASN yang ngopi saat jam istirahat, sekarang palingan satu atau dua orang, ” ujarnya.

Ia juga menegaskan, bahwa sejak empat bulan terakhir pendapatan nya terus menurun, entah mengapa bisa demikian ia juga tak bisa memprediksi penyebabnya.

“Kalau karena wabah Covid – 19 saya rasa tidak juga, buktinya mulai awal tahun 2020 lalu pendapatan kita normal saja, ” tutup nya. *

Reporter : Sahri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ekonomi

Lanjutan Pembangunan Pasar Kuliner Tanjung Palas Dihentikan Pemprov Kaltara

Published

on

Kondisi terakhir pondasi bangunan rencana pasar kuliner di Tanjung Palas Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara.

TANJUNG SELOR – Harapan warga Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, segera memiliki pasar kuliner pupus sudah, lantaran tak dilanjutkan anggaran pembangunan nya pada tahun anggaran 2021 ini oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, padahal pada tahun anggaran 2020 lalu telah dianggarkan sebesar lebih kurang Rp 4 Miliar.

Menurut sumber media ini di Disperindagkop Kaltara, untuk anggaran pembangunan hingga penyelesaian tahap akhir diplot sebesar Rp 11 Miliar. Hanya saja kabarnya usulan itu dicoret saat pembahasan anggaran sebelum ditetapkan dan disetujui bersama oleh TAPD dan Banggar Legislatif.

“Kalau ditanya apakah saya kecewa, tentu sangat kecewa besar, mengingat keberadaan pasar kuliner ini sangat dibutuhkan sekali oleh masyarakat, “ kata Ketua Lembaga Adat Kesultanan Bulungan, Drs Datu Buyung Perkasa M Pd, kepada media ini beberapa waktu yang lalu.

Kondisi direksi keet dilokasi rencana pembangunan pasar kuliner di Tanjung Palas.

Seharusnya kata dia, ditengah pandemic covid – 19 seperti ini, pembangunan pasar kuliner wajib berlanjut, bukan dihentikan anggaran lanjutan nya tanpa disertai dengan alasan yang jelas, disampaikan oleh pemerintah kepada masyarakat.

“Kan katanya, disamping melawan covid – 19, pemulihan ekonomi juga harus berjalan secara beriringan, agar kesejahteraan masyarakat dapat dirasakan secara merata, “ kata Datu.

Menurut Datu, kalau pasar kuliner Tanjung Palas segera tuntas terbangun dan diisi oleh para penjaja makanan. Kendaraan yang melintas dari arah Samarinda, Berau, Tanjung Selor, menuju Tanjung Palas Utara, Sekatak, KTT dan Malinau sangat terbantu. Terutama sopir dan para penumpang yang membutuhkan sarapan, makan siang atau makan malam bisa beristirahat disana.

Namun harapan masyarakat tetaplah tinggal harapan, faktanya pembangunan pasar ini tak berlanjut. Entah sampai kapan dibiarkan demikian, hanya Pemprov Kaltara melalui Dinas Tekhnis yang membidangi mampu menjawab hal itu.

“Infonya tidak hanya pasar kuliner di Tanjung Palas saja yang terhenti lanjutan pembangunan nya, namun pasar di Kecamatan Bunyu, kabupaten Bulungan dan pasar di Sebatik, Kabupaten Nunukan mengalami nasib yang sama, “ tegas Datu Buyung Perkasa.

Hasil pantauan lapangan media ini, bangunan pasar kuliner di Tanjung Palas sudah sampai ketahap pondasi bangunan.

Selain terlihat dua unit molen pengaduk semen yang masih teronggok disana, direksi keet yang sudah terlanjur dibangun oleh kontraktor pelaksana kerja terlihat tak terurus, pintu bangunan tampak terbuka, pagar seng yang terlihat sebelumnya mengelilingi lokasi bangunan juga sudah dilepas dari tempatnya semula dipasang. *

Reporter : Sahri.

Continue Reading

Ekonomi

Jeritan Pilu Pedagang Kecil Tanjung Selor Ditengah Pandemi Covid – 19

Published

on

Pedagang kecil atau yang sering disebut pedagang k 5 di Tanjung Selor Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara.

TANJUNG SELOR – Sejak Awal pandemi Covid – 19 melanda negeri ini, tak terkecuali di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara, pendapatan pedagang kecil atau yang trend disebut pedagang kaki lima terus merosot.

Puncaknya, yang dirasakan oleh beberapa pedagang yakni diawal Januari hingga memasuki bulan April 2021.

“Kalau bisa menangis kita menangis pak, setiap hari hanya cukup untuk makan, sekedar bertahan hidup, ” cerita ibu Eni, salah satu pedagang mie pangsit, kepada media ini, Jumat 9/4/2021 kemarin.

Kalau tahun 2020, kemarin pendapatan masih lumayan, masih bisa disisih kan untuk bayar sewa rumah dan uang kuliah anak.

Ibu Eni yang mengaku mempunyai Puteri yang kuliah di IAIN Surabaya, sambil mondok disalah satu pesantren disana,sangat membutuhkan biaya yang lumayan besar untuk ukuran orang seperti dia.

“Dari pendapatan jualan harian saya masih harus menyisihkan uang yang harus mencapai Rp 1,5 juta setiap bulan, untuk sewa rumah, air dan listrik, ” ujarnya dengan sedikit nada lirih.

Terkadang, untuk menutup keperluan sehari-hari, ia dan suaminya nyaris tak bisa berbelanja untuk kebutuhan modal berjualan, biasanya untuk menutupi itu ia akan berupaya mencari utangan yang pembayaran nya bisa dicicil.

“Kalau ada bantuan untuk pengusaha UMKM dari pemerintah saya mau, ” ujarnya.

Sedang ibu Suparni, salah satu penjual sayuran dipasar induk Tanjung Selor, juga mengalami hal yang sama. Sejak Januari hingga April penjulan nya mulai merosot. Itu dirasakan mulai wabah Corona muncul di Tanjung Selor.

Demikian pula, yang dialami pedagang sembako lain nya yang berjualan dipasar Induk Tanjung Selor, yang sebelum nya mendapat hasil kotor Rp 4 juta perhari sekarang menurun hingga 70 persen lebih.

“Sekarang pendapatan kotor hanya berkisar Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta saja. Kita berharap ada bantuan permodalan, ” ujar ibu Ana.

Sementara itu, ibu Nunung, penjual barang campuran, mengaku pendapatan nya menurun hingga 40 persen.

“Kalau sebelum Corona bisa mendapatkan hasil 6 hingga 7 juta, sekarang palingan dibawah 4 jutaan, ” katanya.

Untuk perkarung, ia bisa mendapatkan keuntungan berkisar 2 hingga 5 ribuan. Kalau hanya mendapat laba bersih 100 ribu palingan cukup makan, ” ujarnya.

Sebenarnya, lanjut dia sangat berharap ada bantuan untuk pelaku usaha UMKM seperti dirinya.

“Pengen juga dibantu lewat bantuan UMKM kalau bisa, ” imbuhnya. *

Reporter : Sahri.

Continue Reading

Ekonomi

Tak Boleh Bangun Pasar Ramadhan Dilapangan A Yani Tanjung Selor

Published

on

Yanti.

– Karena Pandemi Covid – 19 belum teratasi

TANJUNG SELOR – Selama dua belas tahunan setiap bulan Ramadhan, warga kota Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, untuk mempersiapkan menu buka puasa selalu berbelanja takjil di Pasar Ramadhan yang biasa dibangun disisi bagian depan Lapangan Achmad Yani. Tapi khabarnya pada bulan Ramadhan 1442 H atau tepatnya tanggal 13 April 2021 ini, pasar dimaksud sudah tak ada lagi disana, konon tak mendapatkan restu dari pemerintah untuk dibangun, dengan alasan masih dalam suasana melawan wabah pandemic Covid – 19.

Menurut Yanti, salah satu pedagang takjil setiap bulan Ramadhan, kepada media ini melalui pesan WhatsAPP, Sabtu,10/4/2021 menjelaskan, pihaknya sudah berupaya bermohon kepada Bupati Bulungan agar dijinkan membangun pasar Ramadhan ditempat dimana biasa dibangun setiap menjelang bulan Puasa, yaitu disisi bagian depan Lapangan Sepak Bola Achmad Yani Tanjung Selor, tapi tak dijinkan.

“Saya dan teman-teman meminta ijin kepada bapak Bupati, karena dimana pasar Ramadhan setiap tahun dibangun merupakan asset Pemkab. Namun keinginan kami tak distujui, dengan alasan Pandemi Covid – 19 masih belum teratasi, “ ujar Yanti.

Menurut bapak Bupati, lanjut Yanti lagi, untuk tahun ini tak ada pasar Ramadhan yang menggunakan asset daerah, yang menimbulkan kerumunan ditengah masih belum teratasinya wabah Pandemi Covid – 19.

Kalau memang itu menjadi landasan, tambahnya, apakah pasar-pasar liar tidak menciptakan kerumunan, kenapa itu tidak ditertibkan, apa dijamin disana tidak menyebarkan wabah virus corona?.

Terpaksa agar bisa tetap berjualan, dirinya berencana menjajakan jualan Takjilnya dijalan Jenderal Soedirman Tanjung Selor Hilir, persis didepan kantor pemadam kebakaran.

“Saya berencana hanya meggelar meja saja, yang bisa diangkut atau dipindahkan setelah jualan selesai, “ ungkapnya.

Seharusnya, ditengah menurunnya pendapat warga, yang berimbas terhadap perekonomian, tak ada pencekalan terhadap masyarakat yang mau berusaha. Terutama kepada pedagang musiman yang hanya memanfaatkan suasana bulan Ramadhan untuk menambah penghasilan.

“Masyarakat kecil hanya butuh kebijakan pemimpin yang berpihak terhadap mereka, bukan minta “disuapi”, “ kata Yanti.

Kalau berbicara wabah Covid – 19 semua memahami itu, kan ada yang namanya Protokol Kesehatan, tinggal bagaimana regulasi yang diterapkan. “Adaptasi kebiasaan baru” sudah jelas, harus ditaati dan dipatuhi tanpa kecuali.

“Jadi dengan menerapkan Protokol Kesehatan (Prokes), seharusnya semua bisa berjalan beriringan, Adaptasi kebiasan baru yang mendukung terhadap pemulihan ekonomi, “ tutup Yanti. *

Reporter : Sahri.

 

 

Continue Reading

Trending

Copyright © 2020 JurnalKaltara.com, Web Design by Ciptamedia Kreasi